Kembali ke Beranda
Sampul Novel Prolog
Ongoing
Umum2 Bab DiterbitkanMasih Bersambung

Prolog

Sedang Membaca:Bab 2: Bab 2
Ditulis oleh: Fadlur Rahman•Rilis 2 jam lalu

Dukung Penulis Cerita Ini

Apresiasi proses kreatif penulis untuk merampungkan bab berikutnya.

Sinopsis & Premis Cerita

“Lyra adalah anak Vampire yang dibesarkan diam-diam oleh seorang mantan Pahlawan Legendaris di desa manusia. Saat kekuatan dan naluri darahnya mulai sulit disembunyikan, sebuah insiden memaksanya meninggalkan rumah dan memasuki Arcadia—dunia manusia yang membenci rasnya. Di sana, Lyra harus belajar mengendalikan monster dalam darahnya tanpa kehilangan keluarga dan dirinya sendiri.”

Waktu baca: ~13 menit (2207 kata)0%
Novel & CerbungBab 2Ongoing

Seri: Prolog

BAB 1: Taring Kecil di Balik Kedamaian Oakhaven

Ditulis oleh Fadlur Rahman•
Sinopsis & Intisari Karya

“Lyra adalah anak Vampire yang dibesarkan diam-diam oleh seorang mantan Pahlawan Legendaris di desa manusia. Saat kekuatan dan naluri darahnya mulai sulit disembunyikan, sebuah insiden memaksanya meninggalkan rumah dan memasuki Arcadia—dunia manusia yang membenci rasnya. Di sana, Lyra harus belajar mengendalikan monster dalam darahnya tanpa kehilangan keluarga dan dirinya sendiri.”

Enam tahun telah berlalu sejak langit Arcadia dipenuhi kembang api kemenangan. Perang berdarah selama tiga abad melawan Bangsa Iblis kini hanya menjadi cerita pengantar tidur yang dibacakan oleh para ibu kepada anak-anak mereka. Kekaisaran Solaria menikmati kedamaian semu, membangun kembali kota-kota dari abu peperangan, dan mengagungkan nama kelima Pahlawan Legendaris.

Namun, tidak semua pahlawan memilih duduk di singgasana kemuliaan.

Jauh di ufuk barat, tersembunyi di balik barisan perbukitan hijau dan rimbunnya Hutan Sylvan, terletak sebuah desa kecil bernama Oakhaven. Desa ini begitu terpencil hingga para penarik pajak kekaisaran pun sering kali lupa akan keberadaannya. Di tempat inilah Lumine, sang healer tingkat Saint yang namanya terukir di monumen ibu kota, memilih untuk menghilang. Menanggalkan jubah sucinya, ia kini hanya dikenal sebagai "Ayah Lumine", seorang pria paruh baya bersahaja yang mengelola sebuah panti asuhan besar berbahan kayu ek, menampung puluhan anak yatim piatu korban sisa-sisa perang.

Bagi warga desa, Lumine adalah orang suci yang turun dari langit. Namun, tak satu pun dari mereka tahu rahasia gelap yang disembunyikan sang pendeta di balik dinding kayu pantinya. Sebuah rahasia berwujud anak perempuan berusia lima tahun dengan sepasang mata semerah rubi.

Malam itu berangin dingin. Jam dinding tua di lorong panti asuhan berdetak memecah kesunyian. Lumine berjalan mengendap-endap, memastikan lantai kayu yang diinjaknya tidak berderit. Di tangannya terdapat sebuah nampan kayu yang ditutupi kain putih. Bau anyir samar menguar dari baliknya.

Ia berhenti di depan sebuah pintu di ujung lorong, mengetuknya pelan dengan pola tertentu. Ketuk dua kali, jeda, ketuk sekali.

Pintu berderit terbuka seukuran celah kecil. Sepasang mata merah menyala menatapnya dari dalam kegelapan.

"Ayah?" bisik sebuah suara kecil serak.

Lumine tersenyum lembut, mendorong pintu dan melangkah masuk, lalu segera menguncinya kembali. "Ya, Lyra. Ini Ayah."

Gadis kecil bernama Lyra itu segera melompat ke arah Lumine, tapi matanya tidak tertuju pada sang ayah, melainkan pada nampan di tangannya. Begitu Lumine menyingkap kain putih tersebut, terlihat potongan daging rusa yang masih sangat segar. Darah kental belum sepenuhnya mengering dari serat-serat daging itu.

"Makanlah, tapi pelan-pelan," tegur Lumine lembut sambil meletakkan nampan itu di atas meja kecil.

Lyra tidak menjawab. Gigi taring mungilnya memanjang dalam sepersekian detik. Ia merobek daging mentah itu dengan rakus, mengunyahnya seakan itu adalah manisan paling lezat di dunia. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, mengotori kemeja tidur putihnya yang sudah kusam.

Lumine duduk di tepi tempat tidur, menatap gadis kecil itu dengan tatapan rumit. Ada rasa bersalah yang selalu menggerogoti hatinya. Sebagai manusia biasa—dan sebagai anak-anak—makan daging mentah adalah hal yang menjijikkan dan berbahaya. Tapi bagi Lyra, keturunan asli klan Vampire, darah dan daging mentah adalah satu-satunya bahan bakar yang menjaga kewarasannya, mencegah insting buasnya bangkit dan memangsa anak-anak panti yang lain.

"Enak?" tanya Lumine, menyodorkan sapu tangan bersih.

Lyra mengangguk penuh semangat, menelan potongan terakhir sebelum menerima sapu tangan itu. "Enak banget! Ayah dapat rusa ini dari mana? Paman pemburu yang kemarin tidak ke sini, kan?"

"Ayah memasang perangkap di pinggir hutan," bohong Lumine halus, mengusap noda darah di pipi pucat gadis itu. "Lyra, ingat janji kita?"

Gadis itu mendengus kecil, menirukan nada suara Lumine dengan gaya mengejek yang menggemaskan. "Jangan perlihatkan gigimu pada siapa pun, jangan beritahu siapa pun apa yang kau makan, dan jangan berkelahi sampai membuat anak lain berdarah."

Lumine terkekeh pelan, mengacak-acak rambut hitam legam Lyra yang berantakan. "Anak pintar. Ayah tidak mau orang-orang desa salah paham padamu. Kau mengerti, kan?"

"Aku mengerti, Ayah. Warga desa itu cerewet. Terutama Paman Gregor yang botak itu," gerutu Lyra sambil bersedekap, membuat Lumine harus menahan tawanya.

"Sudah, sekarang tidur. Besok Alfid bilang dia mau mengajakmu ke sungai, kan?"

Mata merah itu langsung berbinar antusias, warna merahnya memudar perlahan menjadi cokelat gelap, menyembunyikan identitas aslinya. "Iya! Kami mau menangkap ikan yang besar!"

Pagi hari di Panti Asuhan Oakhaven tidak pernah tenang. Sinar matahari baru saja menyentuh pucuk-pucuk pohon pinus ketika sebuah jeritan melengking memecah keheningan.

"LYRA! TURUN DARI SANA, KAU BISA MATI!"

Suara itu milik Alfid, bocah laki-laki berusia delapan tahun dengan rambut pirang berantakan dan lutut yang selalu penuh plester luka. Ia berdiri di halaman panti, mendongak dengan wajah pucat pasi.

Di atas atap panti asuhan yang tingginya hampir tujuh meter, Lyra berdiri menyeimbangkan diri di atas kayu penyangga genteng. Gadis berusia Enam tahun itu mengenakan celana pendek yang digulung asal-asalan dan kemeja kedodoran. Ia tertawa lepas, memamerkan deretan gigi putihnya (yang kini terlihat normal seperti anak manusia biasa).

"Jangan cerewet, Alfid! Aku mau mencoba terbang seperti burung elang Paman Arthur!" teriak Lyra dari atas.

"Kau bukan burung elang! Kau cebol yang tulangnya bisa patah! Turun, atau aku adukan pada Ayah Lumine!" ancam Alfid, berlari ke sana kemari di bawah, mencoba memosisikan diri berjaga-jaga jika gadis itu benar-benar jatuh.

"Adukan saja!"

Tanpa aba-aba, Lyra melompat.

Bukan lompatan kecil. Ia benar-benar melompat sejauh mungkin, melayang di udara selama dua detik penuh sebelum mendarat dengan suara debum yang keras di atas tumpukan jerami tebal di samping kandang kuda. Debu beterbangan ke mana-mana.

Alfid berlari menghampiri tumpukan jerami itu dengan jantung nyaris copot. "Lyra?! Kau masih hidup?!"

Sebuah tangan kecil dan kotor muncul dari balik jerami, disusul oleh wajah ceria Lyra yang kini penuh dengan sisa-sisa rumput kering. "Satu lagi! Ayo kita lompat lagi!"

"Satu lagi kepalamu!" Alfid menarik kerah baju Lyra dan menyeretnya keluar dari jerami. "Anak-anak lain sedang sarapan dan kau malah bermain sirkus mati. Ayo bantu aku membelah kayu bakar dulu!"

Lyra merengut, menepis tangan Alfid dengan mudah. Tenaga gadis kecil itu—meski ia tidak menyadarinya—membuat Alfid terhuyung mundur dua langkah.

"Kau saja yang belah kayu, tenaga tanganmu lemah sekali seperti nenek-nenek," ledek Lyra sambil berlari menuju gerbang panti. "Aku mau ke pasar desa! Kata Bibi Martha hari ini ada pedagang manisan dari kota!"

"Heh! Jangan lari! Ayah melarangmu pergi ke pasar sendirian!" Alfid tidak punya pilihan lain selain berlari mengejar gadis tomboi itu, meninggalkan tugas membelah kayunya. Sebagai anak tertua kedua di panti, Alfid selalu merasa bertanggung jawab atas Lyra, meskipun kenyataannya Lyra-lah yang selalu melindunginya (dan menyeretnya ke dalam masalah).

Pasar Desa Oakhaven pagi itu cukup ramai. Berbagai kereta kuda dari desa tetangga datang membawa sayuran, kulit hewan, dan rempah-rempah. Di tengah keramaian, Lyra menyusup di antara kaki-kaki orang dewasa dengan kelincahan yang tidak wajar untuk anak seumurannya. Gerakannya gesit dan nyaris tanpa suara.

Alfid, di sisi lain, harus bersusah payah menerobos kerumunan sambil terus meminta maaf pada warga yang tak sengaja ia tabrak.

"Lyra, berhenti!" panggil Alfid terengah-engah.

Lyra berhenti di depan kedai milik Paman Gregor, pria berbadan besar dengan kepala botak plontos yang terkenal pelit. Mata Lyra tertuju pada sebuah apel merah yang sangat besar dan berkilau di tumpukan paling atas keranjang buah.

Dengan seringai jahil, Lyra melompat ringan. Tangannya menyambar apel itu, dan sebelum kakinya menyentuh tanah, ia sudah melempar apel tersebut tepat ke wajah Alfid yang baru saja tiba.

Bruk!

Alfid menangkap apel itu dengan panik. Tepat pada saat itu, Paman Gregor menoleh dan matanya melotot tajam.

"HEI! ANAK NAKAL! KAU MAU MENCURI APELKU?!" raung Paman Gregor, wajahnya memerah karena marah. Pandangannya tertuju pada Alfid yang kebingungan memegang apel tersebut.

Lyra tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk Alfid. "Bukan aku! Alfid yang ambil, Paman!"

"Apa?! Kau yang melemparnya padaku!" protes Alfid dengan suara melengking.

"Cepat lari, lamban!" Lyra menarik tangan Alfid dengan kekuatan yang kembali membuat bocah laki-laki itu terseret layaknya boneka kain.

"Anak-anak nakal! Akan kulaporkan pada Pastor Lumine kalian berdua!" teriak Paman Gregor dari kejauhan sambil mengacungkan sapu lidinya.

Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal sambil berlari menuju batas desa. Begitu merasa aman, Lyra merampas apel itu dari tangan Alfid, menggosokkannya ke bajunya, lalu menggigitnya besar-besar.

"Rasanya hambar," komentar Lyra sambil mengunyah. "Lebih enak daging rusa buatan Ayah."

Alfid duduk bersandar di bawah pohon ek besar, mengatur napasnya yang putus-putus. "Tentu saja hambar, lidahmu itu aneh. Tapi serius, Lyra. Paman Gregor pasti akan benar-benar mengadu pada Ayah. Kita bisa dihukum membersihkan kandang babi selama seminggu."

"Kalau begitu biar aku saja yang kerjakan. Aku bisa selesai dalam lima menit," jawab Lyra santai, duduk di sebelah Alfid dan menyodorkan sisa apelnya. "Kau mau?"

Alfid menatap sisa apel itu, lalu menghela napas pasrah dan menerimanya. "Kadang aku bingung, sebenarnya kau ini terbuat dari apa? Kau tidak pernah capek, kau melompat dari atap tanpa lecet sedikit pun, dan... yah, tenaga sepuluh anak laki-laki saja rasanya kalah darimu."

"Ayah bilang aku mewarisi darah ksatria dari ibuku yang sudah meninggal," jawab Lyra polos, mengulangi kebohongan yang telah dihafalnya dari Lumine.

Alfid hanya mendengus, percaya begitu saja. "Ksatria beruang, mungkin."

Baru saja mereka selesai menikmati apel curian itu, telinga Lyra tiba-tiba berkedut. Gerakannya mendadak kaku. Matanya yang tadinya santai tiba-tiba menyipit tajam ke arah Hutan Sylvan di depan mereka.

"Alfid," panggil Lyra, suaranya berubah menjadi sangat pelan, nyaris seperti geraman.

"Apa?"

"Ada yang datang."

"Penduduk desa mau ke ladang?"

"Bukan." Lyra berdiri perlahan. Kulit pucatnya tampak menegang. "Baunya busuk. Dan mereka marah."

Sebelum Alfid bisa memahami maksud gadis itu, sebuah jeritan panjang dan melengking terdengar dari arah ladang gandum di perbatasan desa. Jeritan seorang wanita.

Alfid melompat berdiri, wajahnya memucat. "Itu suara Bibi Elara! Dia sedang memanen gandum hari ini!"

Tanpa berpikir panjang, Lyra melesat. Kecepatannya bukanlah kecepatan anak Enam tahun biasa; tanah di bawah pijakannya sedikit retak ketika ia bertolak maju. Alfid tertinggal jauh di belakang, memaksakan kakinya berlari sekuat tenaga.

Ketika Lyra tiba di batas ladang, pemandangan yang tersaji cukup untuk membuat darah manusia biasa membeku.

Tiga ekor monster dengan tinggi mencapai pinggang orang dewasa sedang mengelilingi Bibi Elara yang terjatuh di tanah. Monster itu memiliki kulit hijau berlendir, telinga panjang yang runcing, dan mata kuning gila. Feral Goblin. Monster tingkat terendah, tapi sangat mematikan bagi manusia biasa yang tidak memiliki mana.

Salah satu goblin itu mengangkat gada kayunya yang berduri, bersiap menghantam kepala Bibi Elara. Wanita itu hanya bisa menangis dan menutup matanya dengan lengan.

WUSSH!

Sebuah bayangan kecil melesat dari balik batang gandum.

Sebelum gada itu turun, tinju kecil Lyra melayang menghantam dada goblin tersebut.

Brak! CRACK!

Suara tulang rusuk yang patah terdengar nyaring. Goblin itu terpental ke udara, terlempar sejauh lima meter dan menabrak pohon dengan suara memuakkan sebelum jatuh tak bergerak. Darah hijau mengalir dari mulutnya.

Dua goblin lainnya menoleh dengan kaget. Mereka menggeram marah melihat saudara mereka dibunuh oleh anak balita manusia. Keduanya langsung mengalihkan target pada Lyra, menerjang maju dengan cakar dan gigi kuning mereka yang busuk.

"Lyra, awas!" teriak Alfid yang baru saja tiba. Bocah itu tidak tinggal diam. Ia mencabut belati kayu yang selalu ia bawa di pinggangnya, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah goblin di sebelah kiri.

Belati kayu itu menancap tepat di mata sang goblin. Monster itu menjerit kesakitan, terhuyung mundur sambil memegangi wajahnya.

Goblin yang tersisa kini berada tepat di depan Lyra. Monster itu mengayunkan cakarnya ke arah wajah gadis itu. Namun, refleks Lyra berada di luar nalar. Ia merunduk dengan luwes, menggunakan momentum kakinya untuk memutar tubuh, dan mendaratkan tendangan memutar tepat ke pelipis goblin itu.

Terdengar bunyi patahan yang nyaring. Leher goblin itu terpelintir pada sudut yang tidak wajar. Ia ambruk ke tanah, tewas seketika.

Melihat dua temannya mati, goblin terakhir yang matanya tertancap belati kayu mencoba melarikan diri ke dalam hutan.

Napas Lyra memburu. Selama sesaat, matanya kembali menyala merah rubi. Ada insting liar yang berteriak di dalam darahnya, menyuruhnya untuk mengejar dan merobek kerongkongan makhluk itu.

Namun, sebelum ia melangkah, sebuah tangan hangat dan lebar memegang bahunya.

Mata merah Lyra langsung meredup, kembali menjadi cokelat gelap. Ia menoleh. Lumine sudah berdiri di belakangnya. Jubah sederhana pendeta itu berkibar tipis oleh angin ladang. Ekspresi wajah Lumine sangat tenang, namun matanya memancarkan aura Saint yang menekan.

Merasakan aura mengerikan dari manusia dewasa itu, goblin yang mencoba lari tiba-tiba berhenti dan jatuh tertelungkup. Tubuhnya hancur tertekan oleh tekanan mana murni dari tatapan Lumine saja.

Hening sejenak.

"Ayah..." cicit Lyra, tiba-tiba merasa takut. Tangannya bertaut di depan dada, menyadari bahwa ia telah melanggar janji untuk tidak berkelahi.

Bibi Elara yang masih terduduk di tanah memandang kejadian itu dengan mulut terbuka lebar. Ia menatap mayat-mayat goblin, lalu menatap Lyra, lalu menatap Lumine secara bergantian.

"P-Pastor Lumine..." isak Bibi Elara, masih gemetar. "Anak itu... anak angkatmu... dia..."

Lumine segera berlutut di sebelah Bibi Elara, memasang wajah kaget dan cemas yang sangat natural. "Syukurlah Anda selamat, Elara. Ya ampun, apa yang terjadi di sini? Lyra, apa kau terluka, Sayang?"

Bibi Elara menggeleng kuat-kuat. "T-tidak, Pastor! Anak itu... dia memukul goblin-goblin ini sampai mati! Dia menyelamatkanku!"

Lumine menatap mayat goblin itu, lalu tersenyum maklum. "Ah, anak ini memang punya tenaga lebih karena ia sering membantu membelah kayu. Tapi sungguh, ini adalah keajaiban dari Dewa bahwa ia bisa tepat waktu mengalihkan perhatian monster ini, sementara goblin-goblin ini tampaknya sangat lemah karena kelaparan."

Lumine sangat pintar memutarbalikkan fakta, mereduksi kehebatan Lyra menjadi sekadar 'anak beruntung melawan monster lapar'.

Bibi Elara, yang masih syok, tampaknya menerima penjelasan logis dari tokoh yang paling dihormati di desa itu. Ia memeluk lutut Lumine, menangis berterima kasih.

Sementara itu, Alfid berjalan menghampiri Lyra. Ia menatap gadis kecil yang kini sedang membersihkan noda darah hijau di bajunya dengan ekspresi tanpa dosa.

"Kau gila," bisik Alfid.

"Gila, tapi keren kan?" balas Lyra sambil menyengir lebar, memperlihatkan gigi rata yang sama sekali tidak terlihat mematikan.

Di kejauhan, Lumine melirik kedua anak itu. Hatinya diselimuti kekhawatiran yang mendalam. Insting iblis dan kekuatan fisik Lyra semakin sulit disembunyikan. Cepat atau lambat, kedamaian kecil di Desa Oakhaven ini tidak akan lagi cukup untuk menampung takdir besar yang tertidur di dalam diri sang gadis vampir

Apresiasi Rasa Sastra:0 Jejak Apresiasi
Sorot kalimat mana saja untuk menjadikannya kartu kutipan.
Bab 1Menunggu bab berikutnya...

Ruang Diskusi (0)

Berikan ulasan dan tanggapan apresiatif dengan santun dan bersahabat.

Belum ada tanggapan umum. Jadilah yang pertama memberikan apresiasi.